Minggu, 17 Januari 2016

cerpen gue:)



Karena Roti

Bau roti!! Itulah yang selalu aku cium setiap pagi ketika para pekerja di Toko Roti itu sedang sibuk membuat roti, karena aku sangat menyukai roti dan aku ingin menjadi pembuat roti yang hebat. Walaupun aku selalu tergiur dengan bau roti itu, tapi apa daya aku hanya seorang anak laki-laki yang terlahir dari keluarga miskin. Ibuku hanya seorang buruh cuci dan ayahku, entahlah ! Setiap kali aku bertanya dimana ayah, ibu selalu menjawab bahwa ayah sudah meninggal. Tapi, walaupun keadaanku seperti ini, aku selalu ingin menjadi seorang laki-laki yang mempunyai harga diri dan bertanggungjawab.
Setelah pulang sekolah, seperti biasa aku melewati Toko Roti dekat rumahku, “ahh, baunya wangi sekali! aku jadi lapar.” gerutuku di depan toko roti itu. “Woyyy Rakka, sedang apa kau disana? tanya temanku di seberang sana.
“Aku sedang mencium bau roti, wangiiii sekali… aku jadi lapar!” jawabku.
“Kalau hanya mencium baunya saja mana mungkin bisa jadi kenyang! Dasar Rakka! Hahaha…”
“Ah kalian ini! Kalian tahukan aku tidak punya uang untuk membelinya,”
“Kamu mau makan roti sepuasnya secara gratis kan? Kalau begitu ayo ikut dengan kami,” ajak mereka. Lalu aku pun mengikuti mereka, dan akhirnya kami sampai di Perusahaan pembuat roti terbesar di kota kami.
            “Hey, untuk apa kita kesini?” tanyaku.
            “Kita kan mau makan roti sepuasnya secara gratis!, inilah tempatnya rakka!” jawab mereka.
            “Tapi bagaimana caranya?, apakah kita diperbolehkan untuk mengambil roti disini?” tanyaku lagi.
            “Tentu saja!, jika kita mengambilnya secara diam-diam dan tidak ketahuan!” kata mereka.
            “Itukan namanya mencuri teman-teman!” tegasku sambil melotot ke arah mereka.
            “Ya sudah kalau kamu tidak mau! Aku dan Tobbi saja yang akan melakukannya,”jawab Bobbi dan merekapun masuk ke tempat tumpukan roti itu, dan memasukkan roti satu persatu kedalam jaket mereka. Badan mereka terlihat bertambah gemuk karena roti-roti di jaketnya itu, oya mereka itu saudara kembar! Yaitu Bobbi dan Tobbi, mereka juga adalah tetanggaku.
            Tidak memakan waktu yang lama mereka pun selesai memasukkan roti-roti itu kedalam jaket mereka, dan berhasil lolos lalu menghampiriku.
            “Lihatkan kami berhasil melakukannya! Kalau kamu mau lakukanlah sendiri,” tantang mereka.
            “Baiklah aku akan melakukannya!” timpalku.
Lalu akupun mengendap-ngendap ke tempat tumpukan roti itu, aku mengambil roti satu persatu dengan perlahan dan memasukkannya ke dalam jaket. Huh, aku bernapas lega!
Tahap pertama aku  berhasil melakukannya, lalu aku pun bergegas menghampiri Bobbi dan Tobbi di tempat persembunyian kami. Tapi ketika aku mulai berjalan, aku malah tertangkap basah oleh seorang pegawai.
“Hey, sedang apa kamu disana!!!” teriak pegawai itu padaku. Tanpa banyak berfikir, akupun menggunakan jurus seribu langkah agar tidak tertangkap. Tapi, “Bruuukkk….” Aku menabrak seseorang dan aku terjatuh, wah! Roti yang aku ambil tadi berserakkan di lantai. “Hey, kamu anak kecil! Berani-beraninya mencuri roti disini!” teriak pegawai yang mengejarku. “Apa benar kamu pencuri?” tanya seorang bapak yang tadi aku tabrak. Aku terdiam dan menoleh ke arah tempat persembunyian Bobbi dan Tobbi, dan ternyata mereka sudah kabur!.
“Maaf pak, aku tidak bermaksud untuk mencuri! Aku hanya diajak oleh teman-temanku.” Jawabku penuh dengan penyesalan.
“Dasar anak kecil! Sudah ada bukti seperti itu, tetap saja mengelak!. Maaf Pak, ini akibat keteledoran kami. Kami akan mengurus anak kecil ini Pak!” kata pegawai itu.
“Sudah, masalah ini tidak usah diperbesar lagi! Lagipula dia sudah ketahuan kan?! Hey Nak! Kamu ambil saja semua roti yang kamu curi itu,” perintah bapak itu dengan wajah wibawanya.
“Maaf Pak, tapi saya kan sudah bilang kalau saya itu tidak mencuri!, saya hanya diajak oleh teman-teman saya! Sungguh saya tidak mau mengambil roti-roti ini.” Dengan lantangnya aku berkata.
“Baiklah jika kamu ngotot seperti itu, saya akan menarik kembali ucapan saya.” Ucap Bapak itu sambil tersenyum.
“Wahh, terimakasih Pak! Sekarang Bapak tolong bilang bahwa saya tidak mencuri, agar harga diri saya sebagai laki-laki kembali lagi.” tegasku dengan membusungkan dada.
“Haha.. Kamu ini ada-ada saja Nak! Ok, kamu itu tidak mencuri dan kembalilah harga dirimu itu!” dia berkata sambil tertawa.
Akupun berterima kasih kepada Bapak itu, dan aku langsung pergi meninggalkan Perusahaan roti itu tanpa membawa roti satupun. Ketika diperjalanan pulang, aku bertemu dengan Bobbi dan Tobbi dan aku langsung menegur mereka. “Hey kalian! Sungguh jahat kalian meninggalkanku ketika aku sudah tertangkap basah! Untung saja aku bisa selamat.” Ucapku. “Oh maafkan kami berdua Rakka! Kami ketakutan sekali,” jawab Bobbi. Aku hanya terdiam dan menggerutu di hati, dan aku pun berlalu meninggalkan mereka.
“Tiiiiiiiiiiiiiin,” suara klakson mobil terdengar di belakangku dan aku pun menoleh. Ternyata itu adalah mobil Bapak yang menyelamatkanku tadi.
“Hey Nak, kamu mau kemana? Ayo naik mobil Bapak saja.” Ucapnya sambil tersenyum ramah.
“Tidak usah repot-repot Pak, aku sudah hampir sampai kok” balasku sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa, ayo cepat naik!” tegasnya sambil terus memaksa.
Akhirnya aku masuk ke mobil Bapak itu.
“Dimana rumahmu Nak? Dan siapa namamu?” tanya Bapak itu.
“Aku tinggal di perempatan depan sana Pak, tadikan aku sudah bilang sebentar lagi juga sampai. Mmm, namaku M.Rakka Nugraha itu nama yang terlalu bagus bukan untukku? Haha…”
“Ohh, nama itu mengingatkan ku terhadap seseorang. Apakah itu nama pemberian Ayahmu?” ucapnya dengan wajah termenung. “Kata Ibuku sih iya, itu pemberian Ayahku. Tapi sejak dari lahir aku tidak pernah bertemu dengan Ayah, karena Ibu bilang bahwa Ayah sudah meninggal,” jawabku. “Benar begitukah?” tanyanya dengan wajah yang sedang berfikir. Aku hanya mengangguk dan kamipun tiba di rumahku, aku segera memanggil Ibu. “Ibuuuuuuuuuu, aku sudah datang! Cepatlah keluar.” Teriakku di depan rumah.
“Rakka, kamu tidak usah berteriak seperti itu! Membuat Ibu kaget saja!”. Jawab Ibu lalu menghampiriku ke depan rumah.
“Bu, lihatlah ini Bapak yang menyelamatkanku ketika insiden di Perusahaan tadi.” Ucapku sambil menarik tangan Bapak itu keluar dari mobil.
“Insiden apa? Kamu ini membuat ulah apa lagi Rak……….” Ucapan Ibu terhenti ketika melihat wajah Bapak itu.
“Rina! Apa benar itu kamu? Dan anak ini? Benarkah ini semua….” Tanya Bapak itu bertubi-tubi dengan spontannya, dan membuat Ibu hanya bisa terdiam.
“Bapak kenal Ibuku? Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran.
“Tentu saja kami saling mengenal Rakka anakku, selama ini aku terus mencari kalian! Rina jangan ditutup-tutupi lagi biar Rakka tahu yang sebenarnya.”jawab Bapak itu dengan bijaknya.
“Iya Rakka, kami memang saling mengenal… Hiksss… Waktunya sudah tiba Nak! Kamu harus mengetahui kebenarannya. Rakka sayang, sebenarnya Ayahmu masih hidup dan dialah Ayah kandungmu. Selama ini Ibu berbohong, tapi ini demi kebaikanmu! Maafkan Ibumu ini ya Rakka. Walaupun sebenarnya Ibu tidak pantas untuk di maafkan.” Pengakuan Ibu sambil terus terisak dan memegang bahuku. Akupun terdiam menerima kenyataan ini, aku bingung dan kecewa selama ini Ibu yang sangat aku sayangi begitu tega membohongiku selama 15 tahun. Tapi disisi lain aku merasa bahagia menerima kenyataan bahwa Ayahku masih hidup.
“Iya Rakka, saya adalah Ayahmu! Ketika mendengar namamu saya sudah menduganya, karena itu adalah nama pemberian saya. Rakka, ayo berpelukan dengan Ayah. Lupakan semuanya! Dan kita menjalani hidup yang baru.” Ucapnya sambil memeluk erat tubuhku. Begitu hangatnya pelukan seorang Ayah, dan ini kali pertama aku dipeluk Ayah. Rasa kecewaku tadi dengan cepatnya menghilang, sekarang yang ada hanya rasa bahagia lalu aku menoleh kearah Ibu yang masih terisak dan aku pun menariknya untuk berpelukan bersama.

                                                                       * * *

Hari baru pun tiba, sekarang Aku dan Ibu sudah berada di rumah Ayah yang begitu mewah. Ternyata Ayah adalah seorang Presdir di Perusahaan Roti yang aku datangi waktu itu. Semenjak disini, setiap hari aku bisa memakan roti sepuasnya dan aku selalu diajak ke Perusahaan Ayah untuk melihat cara pembuatan roti atau hanya untuk menengok Perusahaannya saja. Ternyata alasan mereka waktu dulu berpisah, karena tidak mendapat restu dari Ibunya Ayah, tapi karena mereka dibutakan oleh cinta akhirnya mereka memutuskan untuk kawin lari, mereka tinggal di rumah yang begitu sederhana. Nenek tidak merestuinya karena latar belakang Ibu yang tidak jelas, kedua orangtua Ibu sudah meninggal dan dia hanya lulusan SMA. Tapi apa daya, mereka hanya bisa pasrah ketika nenek menarik paksa Ayah untuk kembali ke rumahnya dan meninggalkan Ibu. Begitulah kisah cinta kedua orangtuaku, tapi sekarang nenek sudah berubah bahkan ketika aku ke rumah Ayah, aku disambut antusias oleh Nenek.
Aku senang sekali! Sekarang keluargaku sudah utuh, aku sangat bersyukur. Aku juga semakin menyukai roti, karena berkat kesenanganku terhadap roti aku dipertemukan dengan Ayah.

 * * *

            Waktu demi waktu dilalui, akupun bertambah dewasa. Sekarang umurku sudah 21 tahun, akupun sudah lulus kuliah dan rencananya aku akan meneruskan usaha Ayah di Perusahaan Roti itu. Aku sudah belajar banyak cara membuat berbagai macam roti dan menurutku roti buatanku enak. Perusahaan Ayah pun semakin maju dan tentunya Ayah dan Ibuku semakin tua dan melemah. Hari ini aku merasa rindu dengan tempat tinggalku dulu bersama Ibu, akupun memutuskan untuk pergi kesana pagi ini. Setiba disana aku dikagetkan oleh dua orang pemuda kekar yang tiba-tiba mencegatku. “Hey lihatlah siapa ini! Sedang apa kamu disini?” lantang salah seorang pemuda itu.
            “Maaf, aku hanya ingin berkunjung kesini. Aku tidak punya maksud lain.” Jawabku.
            “Apa kamu hanya ingin berkunjung saja hah? Kamu tidak rindu dengan teman-teman kecil mu?”
            “Hmmm, tentu saja aku sangat merindukan mereka! Bobbi dan Tobbi!” lirihku.
            “Wahh Rakka! Ternyata kamu masih mengingat kami! Ini aku Bobbi dan ini Tobbi.”
            “Oya? Aku sampai tidak mengenal kalian, kalian sudah berubah sekali!” seruku dengan kaget.
            “Oh sobat! Mari berpelukan! Dan maafkan atas segala kenakalan kami waktu dulu terhadapmu Rakka!” mereka sedikit terisak sambil memelukku dengan erat.
            “Haha, tenang saja aku sudah memaafkan kalian kok! Berkat kalian aku bisa bertemu dengan Ayahku.”
            “Terimakasih Rakka! Oya, dulu kami dengar kamu sudah bertemu dengan Ayahmu?”
            “Ya, sekarang aku sudah memiliki keluarga utuh! Oya bagaimana keadaan Toko Roti dekat rumahku yang dulu itu?” tanyaku.
            “Toko Roti itu sudah ditutup, karena bangkrut Rakka! Tapi, kami sudah membeli lahan Toko itu. Tadinya kami berniat untuk membuka Toko Rotinya lagi tapi kami kekurangan dana untuk membiayai pegawainya dan kami tidak bisa membuat roti. Jadi rencananya kami akan menjual tanaman saja di Toko itu.” Ucap Bobbi panjang lebar.
            “Haha, kalian ini! Baiklah aku akan membantu kalian, aku akan menambahkan modal untuk kalian asal kalian mau bekerjasama denganku dan menjadikan Toko itu tetap menjadi Toko Roti. Tentunya dengan sedikit renovasi,” dengan semangat aku memberikan penawaran kepada mereka.
            “Ok, kita sepakat!” jawab mereka kompak.
***
            Keesokan harinya, ketika aku sedang berjalan di taman aku melihat seorang gadis cantik yang sedang duduk diantara bunga-bunga yang indah. Dengan berani aku menghampirinya, dan mencoba mengajaknya bicara. “hai, kamu sendirian?” tanyaku, tapi tak ada jawaban dari gadis itu. Aku pun mencoba menyapanya kembali, “maaf, apa aku mengganggumu? Aku hanya ingin berkenalan denganmu” jelasku dengan sopan. Dia pun menoleh dan mulai membuka mulutnya, “au ia isa icaa” ucapnya dengan terbata-bata. Sungguh aku terkejut, ternyata dia bisu. Gadis cantik yang bisu, aku merasa iba dengannya. “maaf, aku tidak tahu. Apa aku mengganggumu? Kamu bisa mengerti aku kan?” sesalku kepada gadis itu. Sekarang dia tidak membuka mulutnya, tapi dia mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu diatasnya. ‘Hai, Namaku Ayunda’ aku pun mengangguk dan tersenyum membaca itu. Sejak itulah kami semakin dekat, aku memperkenalkan diriku dan pengalaman hidupku kepadanya. Meskipun sulit berkomunikasi dengannya, tapi aku merasa nyaman dengannya. Ayunda, terimakasih sudah menjadi bagian hidupku. Percayalah kawan, perbedaan dalam sebuah hubungan itu memberikan bumbu-bumbu manis di setiap perjalanan yang kita lalui bersama pasangan kita.
            Hidup memang sulit, sungguh pahit dan keji. Banyak penghalang yang membuat kita menyerah di tengah jalan, padahal tinggal beberapa langkah lagi kita menuju kebahagiaan itu. Bersabarlah, berjuanglah, dan bertahanlah. Maka kebahagiaan itu akan menghampirimu.

1 komentar:

Wah cerpennya bakgus mbak :D

Cerpen yang lainnya di tunggu ya mbak hihihi

Posting Komentar