Karena Roti
Bau roti!! Itulah yang selalu aku
cium setiap pagi ketika para pekerja di Toko Roti itu sedang sibuk membuat roti, karena aku sangat menyukai roti dan aku ingin
menjadi pembuat roti yang hebat. Walaupun aku selalu
tergiur dengan bau roti itu, tapi apa
daya aku hanya seorang anak laki-laki yang terlahir dari keluarga miskin. Ibuku
hanya seorang buruh cuci dan ayahku, entahlah ! Setiap kali aku bertanya dimana ayah, ibu
selalu menjawab bahwa ayah sudah meninggal.
Tapi, walaupun keadaanku seperti ini, aku selalu ingin menjadi seorang laki-laki
yang mempunyai harga diri dan bertanggungjawab.
Setelah pulang sekolah, seperti biasa
aku melewati Toko
Roti dekat rumahku, “ahh, baunya
wangi sekali! aku jadi lapar.” gerutuku
di depan toko roti itu. “Woyyy
Rakka, sedang
apa kau disana?”
tanya temanku di seberang sana.
“Aku sedang mencium bau roti, wangiiii sekali… aku
jadi lapar!” jawabku.
“Kalau hanya mencium baunya saja mana mungkin bisa
jadi kenyang! Dasar Rakka! Hahaha…”
“Ah kalian ini! Kalian tahukan aku tidak punya uang
untuk membelinya,”
“Kamu mau makan roti sepuasnya secara gratis kan?
Kalau begitu ayo ikut dengan kami,” ajak mereka. Lalu aku pun mengikuti mereka,
dan akhirnya kami sampai di Perusahaan pembuat roti terbesar di kota kami.
“Hey,
untuk apa kita kesini?” tanyaku.
“Kita
kan mau makan roti sepuasnya secara gratis!, inilah tempatnya rakka!” jawab
mereka.
“Tapi
bagaimana caranya?, apakah kita diperbolehkan untuk mengambil roti disini?”
tanyaku lagi.
“Tentu
saja!, jika kita mengambilnya secara diam-diam dan tidak ketahuan!” kata
mereka.
“Itukan
namanya mencuri teman-teman!” tegasku sambil melotot ke arah mereka.
“Ya
sudah kalau kamu tidak mau! Aku dan Tobbi saja yang akan melakukannya,”jawab Bobbi
dan merekapun masuk ke tempat tumpukan roti itu, dan memasukkan roti satu
persatu kedalam jaket mereka. Badan mereka terlihat bertambah gemuk karena
roti-roti di jaketnya itu, oya mereka itu saudara kembar! Yaitu Bobbi dan
Tobbi, mereka juga adalah tetanggaku.
Tidak
memakan waktu yang lama mereka pun selesai memasukkan roti-roti itu kedalam
jaket mereka, dan berhasil lolos lalu menghampiriku.
“Lihatkan
kami berhasil melakukannya! Kalau kamu mau lakukanlah sendiri,” tantang mereka.
“Baiklah
aku akan melakukannya!” timpalku.
Lalu akupun mengendap-ngendap ke tempat tumpukan roti
itu, aku mengambil roti satu persatu dengan perlahan dan memasukkannya ke dalam
jaket. Huh, aku bernapas lega!
Tahap pertama aku berhasil melakukannya, lalu aku pun bergegas
menghampiri Bobbi dan Tobbi di tempat persembunyian kami. Tapi ketika aku mulai
berjalan, aku malah tertangkap basah oleh seorang pegawai.
“Hey, sedang apa kamu disana!!!” teriak pegawai itu
padaku. Tanpa banyak berfikir, akupun menggunakan jurus seribu langkah agar
tidak tertangkap. Tapi, “Bruuukkk….” Aku menabrak seseorang dan aku terjatuh,
wah! Roti yang aku ambil tadi berserakkan di lantai. “Hey, kamu anak kecil!
Berani-beraninya mencuri roti disini!” teriak pegawai yang mengejarku. “Apa
benar kamu pencuri?” tanya seorang bapak yang tadi aku tabrak. Aku terdiam dan
menoleh ke arah tempat persembunyian Bobbi dan Tobbi, dan ternyata mereka sudah
kabur!.
“Maaf pak, aku tidak bermaksud untuk mencuri! Aku
hanya diajak oleh teman-temanku.” Jawabku penuh dengan penyesalan.
“Dasar anak kecil! Sudah ada bukti seperti itu, tetap
saja mengelak!. Maaf Pak, ini akibat keteledoran kami. Kami akan mengurus anak
kecil ini Pak!” kata pegawai itu.
“Sudah, masalah ini tidak usah diperbesar lagi!
Lagipula dia sudah ketahuan kan?! Hey Nak! Kamu ambil saja semua roti yang kamu
curi itu,” perintah bapak itu dengan wajah wibawanya.
“Maaf Pak, tapi saya kan sudah bilang kalau saya itu
tidak mencuri!, saya hanya diajak oleh teman-teman saya! Sungguh saya tidak mau
mengambil roti-roti ini.” Dengan lantangnya aku berkata.
“Baiklah jika kamu ngotot seperti itu, saya akan
menarik kembali ucapan saya.” Ucap Bapak itu sambil tersenyum.
“Wahh, terimakasih Pak! Sekarang Bapak tolong bilang
bahwa saya tidak mencuri, agar harga diri saya sebagai laki-laki kembali lagi.”
tegasku dengan membusungkan dada.
“Haha.. Kamu ini ada-ada saja Nak! Ok, kamu itu tidak
mencuri dan kembalilah harga dirimu itu!” dia berkata sambil tertawa.
Akupun berterima kasih kepada Bapak itu, dan aku
langsung pergi meninggalkan Perusahaan roti itu tanpa membawa roti satupun.
Ketika diperjalanan pulang, aku bertemu dengan Bobbi dan Tobbi dan aku langsung
menegur mereka. “Hey kalian! Sungguh jahat kalian meninggalkanku ketika aku
sudah tertangkap basah! Untung saja aku bisa selamat.” Ucapku. “Oh maafkan kami
berdua Rakka! Kami ketakutan sekali,” jawab Bobbi. Aku hanya terdiam dan
menggerutu di hati, dan aku pun berlalu meninggalkan mereka.
“Tiiiiiiiiiiiiiin,” suara klakson mobil terdengar di
belakangku dan aku pun menoleh. Ternyata itu adalah mobil Bapak yang
menyelamatkanku tadi.
“Hey Nak, kamu mau kemana? Ayo naik mobil Bapak saja.”
Ucapnya sambil tersenyum ramah.
“Tidak usah repot-repot Pak, aku sudah hampir sampai
kok” balasku sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa, ayo cepat naik!” tegasnya sambil terus
memaksa.
Akhirnya aku masuk ke mobil Bapak itu.
“Dimana rumahmu Nak? Dan siapa namamu?” tanya Bapak
itu.
“Aku tinggal di perempatan depan sana Pak, tadikan aku
sudah bilang sebentar lagi juga sampai. Mmm, namaku M.Rakka Nugraha itu nama
yang terlalu bagus bukan untukku? Haha…”
“Ohh, nama itu mengingatkan ku terhadap seseorang.
Apakah itu nama pemberian Ayahmu?” ucapnya dengan wajah termenung. “Kata Ibuku sih
iya, itu pemberian Ayahku. Tapi sejak dari lahir aku tidak pernah bertemu
dengan Ayah, karena Ibu bilang bahwa Ayah sudah meninggal,” jawabku. “Benar
begitukah?” tanyanya dengan wajah yang sedang berfikir. Aku hanya mengangguk
dan kamipun tiba di rumahku, aku segera memanggil Ibu. “Ibuuuuuuuuuu, aku sudah
datang! Cepatlah keluar.” Teriakku di depan rumah.
“Rakka, kamu tidak usah berteriak seperti itu! Membuat
Ibu kaget saja!”. Jawab Ibu lalu menghampiriku ke depan rumah.
“Bu, lihatlah ini Bapak yang menyelamatkanku ketika
insiden di Perusahaan tadi.” Ucapku sambil menarik tangan Bapak itu keluar dari
mobil.
“Insiden apa? Kamu ini membuat ulah apa lagi Rak……….”
Ucapan Ibu terhenti ketika melihat wajah Bapak itu.
“Rina! Apa benar itu kamu? Dan anak ini? Benarkah ini
semua….” Tanya Bapak itu bertubi-tubi dengan spontannya, dan membuat Ibu hanya
bisa terdiam.
“Bapak kenal Ibuku? Bagaimana bisa?” tanyaku
penasaran.
“Tentu saja kami saling mengenal Rakka anakku, selama
ini aku terus mencari kalian! Rina jangan ditutup-tutupi lagi biar Rakka tahu
yang sebenarnya.”jawab Bapak itu dengan bijaknya.
“Iya Rakka, kami memang saling mengenal… Hiksss…
Waktunya sudah tiba Nak! Kamu harus mengetahui kebenarannya. Rakka sayang,
sebenarnya Ayahmu masih hidup dan dialah Ayah kandungmu. Selama ini Ibu berbohong,
tapi ini demi kebaikanmu! Maafkan Ibumu ini ya Rakka. Walaupun sebenarnya Ibu
tidak pantas untuk di maafkan.” Pengakuan Ibu sambil terus terisak dan memegang
bahuku. Akupun terdiam menerima kenyataan ini, aku bingung dan kecewa selama
ini Ibu yang sangat aku sayangi begitu tega membohongiku selama 15 tahun. Tapi
disisi lain aku merasa bahagia menerima kenyataan bahwa Ayahku masih hidup.
“Iya Rakka, saya adalah Ayahmu! Ketika mendengar
namamu saya sudah menduganya, karena itu adalah nama pemberian saya. Rakka, ayo
berpelukan dengan Ayah. Lupakan semuanya! Dan kita menjalani hidup yang baru.”
Ucapnya sambil memeluk erat tubuhku. Begitu hangatnya pelukan seorang Ayah, dan
ini kali pertama aku dipeluk Ayah. Rasa kecewaku tadi dengan cepatnya
menghilang, sekarang yang ada hanya rasa bahagia lalu aku menoleh kearah Ibu
yang masih terisak dan aku pun menariknya untuk berpelukan bersama.
* * *
Hari baru pun tiba, sekarang Aku dan Ibu sudah berada
di rumah Ayah yang begitu mewah. Ternyata Ayah adalah seorang Presdir di
Perusahaan Roti yang aku datangi waktu itu. Semenjak disini, setiap hari aku
bisa memakan roti sepuasnya dan aku selalu diajak ke Perusahaan Ayah untuk melihat
cara pembuatan roti atau hanya untuk menengok Perusahaannya saja. Ternyata
alasan mereka waktu dulu berpisah, karena tidak mendapat restu dari Ibunya
Ayah, tapi karena mereka dibutakan oleh cinta akhirnya mereka memutuskan untuk
kawin lari, mereka tinggal di rumah yang begitu sederhana. Nenek tidak
merestuinya karena latar belakang Ibu yang tidak jelas, kedua orangtua Ibu
sudah meninggal dan dia hanya lulusan SMA. Tapi apa daya, mereka hanya bisa
pasrah ketika nenek menarik paksa Ayah untuk kembali ke rumahnya dan
meninggalkan Ibu. Begitulah kisah cinta kedua orangtuaku, tapi sekarang nenek
sudah berubah bahkan ketika aku ke rumah Ayah, aku disambut antusias oleh
Nenek.
Aku senang sekali! Sekarang keluargaku sudah utuh, aku
sangat bersyukur. Aku juga semakin menyukai roti, karena berkat kesenanganku
terhadap roti aku dipertemukan dengan Ayah.
* * *
Waktu
demi waktu dilalui, akupun bertambah dewasa. Sekarang umurku sudah 21 tahun,
akupun sudah lulus kuliah dan rencananya aku akan meneruskan usaha Ayah di
Perusahaan Roti itu. Aku sudah belajar banyak cara membuat berbagai macam roti
dan menurutku roti buatanku enak. Perusahaan Ayah pun semakin maju dan tentunya
Ayah dan Ibuku semakin tua dan melemah. Hari ini aku merasa rindu dengan tempat
tinggalku dulu bersama Ibu, akupun memutuskan untuk pergi kesana pagi ini.
Setiba disana aku dikagetkan oleh dua orang pemuda kekar yang tiba-tiba
mencegatku. “Hey lihatlah siapa ini! Sedang apa kamu disini?” lantang salah
seorang pemuda itu.
“Maaf,
aku hanya ingin berkunjung kesini. Aku tidak punya maksud lain.” Jawabku.
“Apa
kamu hanya ingin berkunjung saja hah? Kamu tidak rindu dengan teman-teman kecil
mu?”
“Hmmm,
tentu saja aku sangat merindukan mereka! Bobbi dan Tobbi!” lirihku.
“Wahh
Rakka! Ternyata kamu masih mengingat kami! Ini aku Bobbi dan ini Tobbi.”
“Oya?
Aku sampai tidak mengenal kalian, kalian sudah berubah sekali!” seruku dengan
kaget.
“Oh
sobat! Mari berpelukan! Dan maafkan atas segala kenakalan kami waktu dulu
terhadapmu Rakka!” mereka sedikit terisak sambil memelukku dengan erat.
“Haha,
tenang saja aku sudah memaafkan kalian kok! Berkat kalian aku bisa bertemu
dengan Ayahku.”
“Terimakasih
Rakka! Oya, dulu kami dengar kamu sudah bertemu dengan Ayahmu?”
“Ya,
sekarang aku sudah memiliki keluarga utuh! Oya bagaimana keadaan Toko Roti
dekat rumahku yang dulu itu?” tanyaku.
“Toko
Roti itu sudah ditutup, karena bangkrut Rakka! Tapi, kami sudah membeli lahan
Toko itu. Tadinya kami berniat untuk membuka Toko Rotinya lagi tapi kami
kekurangan dana untuk membiayai pegawainya dan kami tidak bisa membuat roti.
Jadi rencananya kami akan menjual tanaman saja di Toko itu.” Ucap Bobbi panjang
lebar.
“Haha,
kalian ini! Baiklah aku akan membantu kalian, aku akan menambahkan modal untuk
kalian asal kalian mau bekerjasama denganku dan menjadikan Toko itu tetap
menjadi Toko Roti. Tentunya dengan sedikit renovasi,” dengan semangat aku
memberikan penawaran kepada mereka.
“Ok,
kita sepakat!” jawab mereka kompak.
***
Keesokan
harinya, ketika aku sedang berjalan di taman aku melihat seorang gadis cantik
yang sedang duduk diantara bunga-bunga yang indah. Dengan berani aku
menghampirinya, dan mencoba mengajaknya bicara. “hai, kamu sendirian?” tanyaku,
tapi tak ada jawaban dari gadis itu. Aku pun mencoba menyapanya kembali, “maaf,
apa aku mengganggumu? Aku hanya ingin berkenalan denganmu” jelasku dengan
sopan. Dia pun menoleh dan mulai membuka mulutnya, “au ia isa icaa” ucapnya
dengan terbata-bata. Sungguh aku terkejut, ternyata dia bisu. Gadis cantik yang
bisu, aku merasa iba dengannya. “maaf, aku tidak tahu. Apa aku mengganggumu?
Kamu bisa mengerti aku kan?” sesalku kepada gadis itu. Sekarang dia tidak
membuka mulutnya, tapi dia mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu
diatasnya. ‘Hai, Namaku Ayunda’ aku pun mengangguk dan tersenyum membaca itu.
Sejak itulah kami semakin dekat, aku memperkenalkan diriku dan pengalaman
hidupku kepadanya. Meskipun sulit berkomunikasi dengannya, tapi aku merasa
nyaman dengannya. Ayunda, terimakasih sudah menjadi bagian hidupku. Percayalah
kawan, perbedaan dalam sebuah hubungan itu memberikan bumbu-bumbu manis di
setiap perjalanan yang kita lalui bersama pasangan kita.
Hidup
memang sulit, sungguh pahit dan keji. Banyak penghalang yang membuat kita
menyerah di tengah jalan, padahal tinggal beberapa langkah lagi kita menuju
kebahagiaan itu. Bersabarlah, berjuanglah, dan bertahanlah. Maka kebahagiaan
itu akan menghampirimu.










